Filled Under:

Saat Kulit Lebih Penting dari Isi di Ahir Zaman

DALAM sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda, “Dajjal akan keluar ketika agama telah ditinggalkan dan manusia jauh dari ilmu. Dajjal akan melakukan perjalanan selama 40 hari di muka bumi, sehari (pertama) bagai setahun, sehari (kedua) bagai sebulan, dan sehari (ketiga) bagai sepekan, kemudian hari-hari berikutnya sama dengan hari-hari kalian ini.” Pada riwayat di atas Rasulullah mengisyaratkan kondisi yang akan dialami oleh umat Islam di saat al Mahdi keluar (sebab Imam Mahdi muncul sebelum keluarnya Dajjal). Saat itu kebodohan manusia dan jauhnya mereka dari ilmu dan agama benar-benar merata. Keputusan mereka tidak diselesaikan dengan hujjah dan dalil, melainkan hanya dengan akal dan nafsu. Hukum yang berlaku adalah hukum setan dan sekutu-sekutunya. Motifnya adalah syahwat, dan parameternya syubhat. Para ruwaibidhah bermunculan dengan fatwa-fatwanya yang menyesatkan umat.

 Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, -

 إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ- 

“Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad menyatakan isnadnya hasan dan matannya shahih. Syaikh Al-Albani juga menshahihkannya dalam al-Shahihah no. 1887) 


 “Apakah ruwaibidhah itu? Beliau bersabda, “Orang bodoh yang berbicara persoalan yang banyak.” Inilah zaman yang dikatakan Rasulullah sebagai puncak kezaliman dan kecurangan. Para penegak hukum Allah dituding sebagai teroris yang menjadi biang keladi kerusakan dunia, ideologi mereka dituduh iblis, dan Nabi mereka difitnah dengan keji. Kaum Muslimin dikepung dari seluruh dunia. Dunia terasa sempit bagai setiap mukmin, tidak ada tempat berlari atau wilayah aman untuk tegaknya hukum-hukum Allah.

 Kejahilan yang dimaksud tentu saja bukan jahil dalam arti bahwa mereka sama sekali tidak mengerti amalan dan perintah dalam Islam. Boleh jadi saat itu syiar-syiar Islam tampak marak dan hal-hal yang berbau Islami juga mendominasi. Perayaan-perayaan keagamaan dan simbol-simbol religius seakan-akan menjadi ciri khas banyak orang Islam saat itu. Secara fisik juga nampak dari munculnya bangunan-bangunan masjid yang megah, lembaga-lembaga pendidikan Islam, juga universitas yang di dalamnya di ajarkan ilmu-ilmu Islam. Lebih hebat lagi banyaknya tayangan-tayangan TV yang bernuansakan Islam. Tabloid dan media-media cetak maupun elektronik lainnya juga berlomba-lomba membawakan pesan-pesan Islam. Bahkan, boleh jadi musuh-musuh Islam juga memberikan dukungan dan akan mengucurkan dana mereka untuk kegiatan-kegiatan yang seakan nampak Islami.

Di saat para pengusung simbol-simbol keislaman itu berbangga dengan apa yang telah mereka lakukan, di saat syiar-syiar Islam nampak marak menghiasi setiap momen keagamaan, di situlah mereka mengira bahwa semacam itulah Islam sebenarnya; Islam yang moderat dan menyejukkan, Islam yang penuh toleran dan menebarkan kasih sayang. Padahal, hakikatnya adalah Islam yang menyejukkan para thaghut dan musuh, Islam yang memberikan keuntungan para pemilik industri perfilman dan bisnis, Islam yang mendapatkan sambutan hangat dan tepuk tangan dari kafir Barat, Islam yang bisa menampung energi kesalehan dan kemaksiatan, Islam yang lebih memuliakan orang-orang jahat, fasik, dan munafik daripada orang-orang beriman sendiri, Islam yang lebih membumi dan lebih lokalis dengan tetap mempertahankan budaya, adat-istiadat, dan kebiasaan setempat dengan mengesampingkan sunnah-sunnah Rasulullah.

Di sinilah letak kejahilan yang sesungguhnya. Jadi, kejahilan yang dimaksud dalam hadits di atas lebih mengarah kepada kejahilan terhadap wajibnya untuk bersikap totalitas dalam berislam; akidah, syariah, akhlak, politik, sosial dan manhaj dalam seluruh kehidupan. Bukan jahil dalam arti tidak bisa baca tulis atau gagap teknologi. Jika hal ini terjadi pada kaum Muslimin (mereka memahami Islam secara kaffah), tentu saja akan berimplikasi pada kemarahan para thaghut. Dari sini mereka menginginkan agar kaum Muslimin jauh dari ajaran mereka yang sesungguhnya, khususnya dalam persoalan kembali kepada syariat Islam pada seluruh dimensi hidup mereka. Kewajiban jihad memerangi musuh-musuh Islam — dengan segala maknanya telah menjadi asing. Al-wala wal bara’ telah kabur dan samar, bahkan tidak sedikit dari kaum Muslimin yang menjadi kaki tangan thaghut kafir dan membantu mereka dalam memerangi jihad dan mujahidin. Kejahilan yang sesungguhnya adalah ketika mereka menukar tauhid dengan syirik, menukar syariat yang suci dengan demokrasi liberal yang kotor, menukar wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dengan akal yang dangkal, dan menukar kecintaan mereka kepada orang orang yang berpegang teguh dengan syariat dengan kebencian, hingga akhirnya mereka lebih mencintai kekufuran dan orang orang kafir. Tepat sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah,
saat kaum muslimin telah mengerahkan seluruh kemampuan dan tenaga mereka untuk menegakkan seruan-Nya, namun kebengisan musuh dan makarnya semakin menggila. Di saat itu Al Mahdi akan datang memerangi kezaliman, menaklukkan seluruh dunia, hingga benar-benar hanya Allah yang di sembah.*/Ari Fathur Rahman (dari buku Nubuwat Perang Akhir Zaman karya Abu Fatiah Al Adnani)
>
Script

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Komentar yang sekaligus sebagai Informasi dan Diskusi Kita , Bila Belum ada Jawaban Akan secepatnya ditindaklanjuti